Tampilkan postingan dengan label Materi Bimbingan dan Konseling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Materi Bimbingan dan Konseling. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Juli 2012

Psikologi Pemilihan Karier (2)

       Individu-individu dalam satu pekerjaan memiliki kepribadian yang serupa dan kesamaan sejarah perkembangan pribadinya. Penelitian dari Laurent's mengungkapkan bahwa seorang insinyur, ahli fisika, dan pengacara membuktikan kebenaran kesamaan sejarah kehidupan individu-individu dalam jabatan masing-masing.

      Karena orang dalam suatu kelompok pekerjaan (rumpun pekerjaan) memiliki kepribadian yang serupa, maka mereka akan menanggapi terhadap berbagai situasi dan masalah dengan cara yang serupa, dan mereka akan membentuk lingkungan hubungan antar pribadi yang khas.

      Kepuasan, kemantapan dan hasil kerja tergantung atas kongruensi antara kepribadian seseorang dan lingkungan (yang sebagian besar terdiri dari orang-orang lain) dimana seseorang itu bekerja. Kita merasa lebih tentram  berada di antara teman-teman yang mempunyai cita-cita, bakat, dan nilai-nilai yang serupa dengan cita-cita, bakat, dan nilai-nilai kita sendiri, demikian pula kita akan dapat berkarya lebih baik pada suatu pekerjaan dimana kita secara psikologis merasa cocok di dalamnya.

      Secara ringkas, teori ini mengandung beberapa gagasan yang sederhana dan uraiannya yang lebih kompleks. Pertama, kita menganggap bahwa kita menandai orang dari kesamaan mereka dengan salah satu atau beberapa tipe kepribadian. Kedua, kita menganggap bahwa lingkungan dimana orang itu hidup dapat ditandai dari kesamaan mereka dengan salah satu atau beberapa model lingkungan. Ketiga, kita menganggap bahwa pasangan antara pribadi dan lingkungan mengacu pada hasil-hasil tertentu yang dapat kita ramalkan dan pahami dari pengetahuan kita tentang tipe kepribadian dan model-model lingkungan. Hasil-hasil termasuk pemilihan jabatan, stabilitas dan hasil kerja, stabilitas pribadi, performansi kreatif dan kelemahan terhadap pengaruh.    

      Membandingkan sifat-sifat seseorang dengan sifat-sifat tiap tipe model, kita dapat menentukan dia yang mirip sekali dengan tipe yang mana. Model tersebut kemudian menjadi "tipe kepribadiannya". Terdapat enam jenis lingkungan: Realistik, Intelektual, Sosial, Konvensional, Enterprising (usaha), dan Artistik.

      Orang mencari lingkungan dan jabatan yang akan memungkinkan mereka melaksanakan kemampuan dan keterampilannya, menyatakan sikap dan nilai mereka, mengambil peranan dan masalah yang dapat disetujui, dan menghindari peranan dan persoalan yang tidak mereka setujui. Contohnya, tipe realistik mencari lingkungan realistik, tipe intelektual mencari lingkungan intelektual, dan seterusnya. Sedikit banyak, lingkungan juga mencari orang-orang melalui pelaksanaan penerimaan tenaga-tenaga baru. Orang-orang yang mencari lingkungan juga dilakukan dengan berbagai cara. Pada tingkat kesadaran tertentu dan dalam jangka waktu yang panjang. Tipe-tipe kepribadian merupakan contoh beberapa cara yang bersifat  umum dimana seseorang mengembangkan kebudayaan kita. Mereka juga menggambarkan bagaimana mengembangkan pribadi seseorang, menyalurkan tujuan seseorang, pemilihan jabatan, mobilitas, dan hasil kerja.

      Cukup sekian sedikit uraian tentang teori dalam psikologi pemilihan karier. Semoga bermanfaat..


Psikologi Pemilihan Karier (1)

     Sepanjang hidup kita, kita semua dihadapkan dengan keputusan-keputusan karier. Kita tidak dapat melepaskan diri kita dari masalah keputusan karier tersebut dalam waktu yang singkat, tetapi kita jarang dapat memecahkannya secara tuntas. Di bawah ini merupakan suatu cara mengelola pengetahuan ini untuk memahami dan menggunakannya dengan mudah teori ringkas ini. 
      Pengetahuan kita tentang gambaran pribadi dan tenaga kerja berkaitan dengan pemilihan suatu kerja yang terus meningkatkan dengan pesat pada dasa warsa ini. Pada saat ini, kita mengetahui bahwa preferensi dan minat jabatan seseorang berhubungan dengan latar belakang informasi dan pribadi dalam jangkauan luas.
       Pemilihan suatu jabatan adalah suatu pernyataan kepribadian. Dalam kurung waktu yang cukup lama pokok-pokok pikiran ini menghasilkan suatu acuan yang berdiri sendiri yang dikenal dengan "pengukuran minat". Karya R.F.Berdie, E.K.Strong, Darley dan Hagenah, serta Super dan Crites, merupakan contoh tinjauan tentang inventori minat mengungkap minat, pemilihan jabatan, dan preferensi jabatan. Jika preferensi jabatan ditafsirkan sebagai pernyataan kepribadian, maka "minat jabatan" merupakan pernyataan yang menggambarkan kepribadian dalam pekerjaan, hobi, aktifitas-aktifitas yang berhubungan dengan rekreasi, dan preferensi. Jadi apa yang disebut "minat jabatan" merupakan aspek lain dari kepribadian. 
       Inventori minat merupakan inventori kepribadian. Jika minat jabatan itu merupakan suatu pernyataan kepribadian, maka selanjutnya inventori jabatan merupakan inventori kepribadian. B.R. Forer (1948) mengembangkan suatu inventori untuk menilai kepribadian dari minat dan aktifitas yang memuat hal-hal yang netral sebagai suatu pernyataan terhadap bermacam-macam dimensi kepribadian. Tapi sayangnya, Forer tidak menuangkan gagasan-gagasan secara langsung terhadap tes ilmiah.
            Teori yang dikemukakan oleh Forer sebagian disusun dari Inventori Preferensi Jabatan dari Holland, ialah suatu inventori kepribadian yang disusun secara menyeluruh dalam judul-judul jabatan. Dasar pemikiran dikembangkannya inventori berisi suatu pernyataan yang lebih lengkap dari hipotesis ini:
                    "Pemilihan setiap jabatan adalah suatu tindakan ekspresif yang memantulkan motivasi, pengetahuan, kepribadian, dan kemampuan seseorang. Jabatan-jabatan menggambarkan suatu pandangan hidup, suatu lingkungan daripada menetapkan fungsi-fungsi atau keterampilan kerja secara terpisah. Bekerja sebagai tukang kayu berarti tidak hanya menggunakan alat-alat atau percobaan, tetapi juga memiliki suatu status tertentu, persamaan peran, peranan dalam masyarakat, dan memiliki pola hidup tertentu. Dalam beberapa hal, pemilihan jabatan menggambarkan beberapa macam informasi tertentu: motivasi, pengetahuan masalah-masalah jabatan, pemahaman dirinya dan wawasannya, dan kemampuan-kemampuannya. Jadi, jawaban soal dapat dijadikan sebagai suatu gagasan yang terbatas, tetapi berguna ekspresif atau menjadi sorotan utama."

Selasa, 29 Mei 2012

DINAMIKA KELOMPOK DAN UNSUR-UNSURNYA

               A.         Pengertian Dinamika Kelompok

Bimbingan kelompok yang  baik adalah apabila dalam kelompok tersebut diwarnai oleh semangat tinggi, dinamis, hubungan yang harmonis, kerjasama yang baik dan mantap, serta rasa saling percaya di antara anggota-anggotanya. Kelompok yang seperti itu akan terwujud apabila para anggota saling bersikap sebagai kawan, menghargai, mengerti, dan menerima tujuan bersama secara positif, setia pada  kelompok, serta mau bekerja keras dan berkorban untuk kelompok.
Berbagai kualitas positif yang ada dalam kelompok tersebut bergerak dan bergulir yang menandai dan mendorong kehidupan kelompok. Kekuatan mendorong untuk menggerakkan dan mengoperasikan kehidupan-kehidupan kelompok tersebut dikenal sebagai dinamika kelompok. Dinamika kelompok menunjukkan seperangkat konsep yang dapat dipergunakan untuk menggambarkan proses kelompok. Konsep tersebut dapat dipergunakan untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk meningkatkan kualitas kelompok.
Dinamika kelompok merupakan pengetahuan yang mempelajari gerak atau tenaga yang menyebabkan gerak tersebut. Biasanya perkataan dinamika digunakan untuk menggambarkan hubungan sebab akibat. Dinamika kelompok adalah pengetahuan yang mempelajari masalah-masalah kelompok.
Cartwright dan Zander (1968:7) mendeskripsikan dinamika kelompok sebagai suatu bidang terapan yang dimaksudkan untuk peningkatan pengetahuan tentang sifat atau ciri kelompok serta hukum perkembangan interelasi dengan anggota, kelompok lain, dan lembaga-lembaga yang lebih besar. Dinamika kelompok sebagai kekuatan operasional suatu kelompok akan memicu adanya proses kelompok dalam melakukan pertukaran semangat dan interaksi di antara anggota dan pemimpin kelompok. Dinamika kelompok dimanfaatkan untuk mencapai tujuan bimbingan kelompok. Bimbingan kelompok memanfaatkan dinamika kelompok sebagai media untuk membimbing anggota kelompok untuk mencapai tujuan.
Dinamika kelompok merupakan jiwa yang menghidupkan dan menghidupi suatu kelompok (Prayitno, 2004:23). Dinamika kelompok mengarahkan anggota kelompok untuk melakukan hubungan interpersonal satu sama lain. Jalinan hubungan interpersonal tersebut merupakan wahana bagi para anggota untuk berbagi pengetahuan, pengalaman, dan bahkan perasaan satu sama lain sehingga memungkinkan terjadinya proses belajar di dalam kelompok yang kohesif.
Kohesif  atau kebersamaan merupakan perekat psikologis yang menyatukan anggota kelompok dan merupakan bagian yang penting dalam pembentukan dan pertahanan kelompok. Kohesif  membuat anggota kelompok lebih mau menerima satu sama lain, saling mendukung dan cenderung lebih membentuk hubungan yang berarti di dalam kelompok.
Lakin (1976; dalam Gazda, 1999:56) mendeskripsikan kelompok kohesif sebagai ekspresi kolektif dasri kepemilikan pribadi. Ia menyatakan bahwa kekohesifan diperlihatkan dengan
(1)     Mengikat anggota secara emosional pada tugas-tugas satu sama lain,
(2)     Memastikan stabilitas yang tinggi dari anggota bahkan dalam menghadapi keadaan yang mengecewakan,
(3)     Mengembangkan sebuah batasan pembagian dari referensi antar-anggota kelompok yang memperbolehkan adanya toleransi yang lebih untuk membedakan tujuan dari anggota kelompok



sumber: konsep dasar bimbingan kelompok, Dra. Hj. Sitti Hartinah DS., MM. 2009

Sabtu, 12 Mei 2012

Pola Asuh Orang Tua

Tulisan ini saya persembahkan bagi guru bimbingan dan konseling di sekolah dan para orang tua di rumah. Walau tak banyak saya harap ini bisa berguna bagi Anda semua. Amin.

Tentu kita semua tahu pola asuh orang tua mempengaruhi kepribadian dan perilaku anak. Para ahli selama ini ( Gunarsa dan Gunarsa, 1995; Helm dan Turner, 1995; Papalia, Olds dan Feldman, 1998) mengemukakan bahwa pola asuh orang tua amat mempengaruhi kepribadian dan perilaku anak. Baumrind, ahli psikologi perkembangan membagi pola asuh orang tua menjadi 3 yakni otoriter, permisif, dan demokratis.

  1.  Pola asuh orang tua otoriter (Parent Oriented). Ciri-ciri dari pola asuh orang tua ini, menekankan segala aturan orang tua harus ditaati oleh anak. Orang tua bertindak semena-mena, tanpa dapat dikontrol oleh anak. Anak harus menurut dan tidak boleh membantah terhadap apa yang diperintahkan oleh orang tua. Dalam hal ini, anak seolah-olah menjadi "robot", sehingga ia kurang inisiatif, merasa takut, tidak percaya diri, pencemas, rendah diri, minder dalam pergaulan; tetapi disisi lain, anak bisa memberontak, nakal, atau melarikan diri dari kenyataan, misalnya dengan menggunakan narkoba. Dari segi positifnya, anak yang dididik dalam pola asuh ini, cenderung akan menjadi disiplin yakni menaati peraturan. Akan tetapi bisa jadi, ia hanya mau menunjukkan kedisiplinan di hadapan orang tua, padahal dalam hatinya berbicara lain, sehingga ketika di belakang orang tua, anak bersikap dan bertindak lain. Hal itu tujuannya semata hanya untuk menyenangkan hati orang tua. Jadi anak cenderung memiliki kedisiplinan dan kepatuhan yang semu.
  2. Pola asuh permisif. Sifat pola asuh ini, children centered yakni segala aturan dan ketetapan keluarga di tangan anak. Apa yang dilakukan anak diperbolehkan orang tua. Orang tua menuruti segala kemauan anak. Anak cenderung bertindak semena-mena, tanpa pengawasan orang tua. Ia bebas melakukan apa saja yang diinginkan. Dari sisi negatif lain, anak kurang disiplin dengan aturan-aturan sosial yang berlaku. Bila anak mampu menggunakan kebebasan tersebut secara bertanggung jawab, maka anak akan menjadi seorang yang mandiri, kreatif, inisiatif, dan mampu mewujudkan aktualisasinya.
  3. Pola asuh demokratis. Kedudukan antara orang tua dan anak sejajar. Suatu keputusan diambil bersama dengan mempertimbangkan kedua belah pihak. Anak diberi kebebasan yang bertanggung jawab, artinya apa yang dilakukan oleh anak tetap harus dibawah pengawasan orang tua dan dapat dipertanggungjawabkan secara moral. Orang tua dan anak tidak dapat berbuat semena-mena. Anak diberi kepercayaan dan dilatih untuk mempertanggungjawabkan segala tindakannya. Akibat positif dari pola asuh ini, anak akan menjadi individu yang mempercayai orang lain, bertanggung jawab terhadap tindakan-tindakannya, tidak munafik, jujur. Namun akibat negatif, anak akan cenderung merongrong kewibawaan otoritas orang tua, kalau segala sesuatu harus dipertimbangkan antara anak-orang tua.
  4. Pola asuh situasional. Dalam kenyataannya, seringkali pola asuh tersebut tidak diterapkan secara kaku, artinya orang tua tidak menerapkan salah satu tipe pola asuh tersebut. Ada kemungkinan orang tua menerapkan secara fleksibel, luwes, dan disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang berlangsung saat itu. Sehingga seringkali muncullah, tipe pola asuh situasional. Orang tua yang menerapkan pola asuh ini, tidak berdasarkan pada pola asuh tertentu, tetapi semua tipe tersebut diterapkan secara luwes.
Dari model pola asuh di atas, mana yang dianggap efektif dan efisien untuk menghadapi kehidupan dalam keluarga? Pertanyaan ini sulit dijawab secara pasti, karena masing-masing keluarga memiliki karakteristik masalah yang berbeda atau tidak sama. Oleh karena itu, tergantung orang tua yang menghadapi masalah dalam keluarganya sendiri. Adakalanya, orang tua menggunakan pola otoriter, tetapi adakalanya orang tua menerapkan pola permisif atau demokratis. Dengan demikian, secara tidak langsung, tidak ada jenis pola asuh yang murni diterapkan dalam keluarga yang bersangkutan. Inilah yang akan mengarah pada pola asuh situasional.      

Sumber: Agoes Dariyo, Psi. 2004. Psikologi Perkembangan Remaja. Ghalia Indonesia.